1.
Fenomena
suku minang
Berbagai
fenomena sosial budaya terakhir yang berwujud perilaku yang menggugat marwah
subkultur dan martabat orang Minang, memberikan petunjuk pentingnya peningkatan
peran ninik mamak dalam penerapan filosofi ABS – SBK (filosofi adat basandi
syara’ – syara’ basandi Kitabullah). Fenomena sosial itu, mulai dari prilaku
kelembagaan adat sendiri dalam pemberiaan gelar yang tidak sesuai dengan nilai
filosofi Minang itu dan terkesan dalam fenomena itu “manjua gala”, juga
perilaku anak kamanakan yang terjebak dalam perilaku yang memalukan dengan
alasan jepitan kehidupan (ekonomi, rumah tangga dan gengsi sosial lainnya)
seperti profesi peristiwa terkini tertangkapnya dua wanita penari striptis di
tempat hiburan malam di Padang oleh Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Padang
(27 Sept 2011), beredarnya video porno di kalangan pelajar di Minang serta
penyakit masyarakat lainnya (miras, judi, pergaulan bebas dan perbuatan maksiat
lainnya).
Kasus
yang benar-benar menciderai marwah ranah dan martabat masyarakat subkultur
Minangkabau yang mempunyai filosofi adat basandi syara’ – syara’ basandi
Kitabullah (ABS-SBK) itu, Skh. Haluan menyebutnya “Minangkabau dalam
Kemaksiatan”, mengandung nada marah media massa dan publik. Fenomena ini justru
menunjukkan salah satu sisi bahwa orang Minang yang menganut norm ABS-SBK itu
prilakunya sudah mengalami kritis.
Sebenarnya
cideranya marwah ranah dan martabat orang Minang ini berakar dari rasa malu
tidak lagi menjadi budaya (perilaku), dimungkinkan karena didera ekonomi dan
kekecewaan rumah tangga disamping sikap mental dan pribadi lemah iman. Rasa
malu yang tidak bertahan karena godaan ekonomi dan ancaman kekecewaan rumah
tangga itu menandai iman lemah dan tidak lagi menjadi kendali kehidupan. Dalam
syara’ (Islam) malu itu bagian dari iman. Iman yang kuat akan menjadi benteng
mempertahankan rasa malu. Di dalam adat disebut: – apalagi arang tacoriang di
kaniang – “malu tidak dapek diagiahkan”
seperti juga “suku tak dapek diasak”. Artinya rasa malu bagi orang minang
bagian dari identitas (Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo, Haluan Minggu, 9 Oktober
2011:3). Praktek yang memalukan tadi, tidak saja memalukan dirinya, tetapi juga
semua kaum (anak kamanakan, mamak dan penghulu suku) dalam sukunya di
Minangkabau. Sudah dapat dipastikan pada kondisi sosial anak kamanakan seperti
ini, yang amat tergugat itu peran ninik mamak dalam limbago adatnya dalam
penerapan ABS – SBK.
Perbuatan
memalukan yang meski dilakukan kamanakan apalagi oleh mamak sendiri karena
jebakan godaan “material”, yang paling bertanggung jawab adalah ninik mamak
dalam limbago adatnya. Tetapi limbago adat dimaksud bukan KAN (Kerapatan Adat
Nagari) dan atau LKAAM (Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau) yang berada di
garda terdepan, namun yang tergugat pertama itu adalah (1) limbago paruik yang
mempunyai tunganai (mamak paruik/ lelaki tertua di paruiknya). Setelah limbago
paruik adalah (2)limbago jurai (mamak di jurainya/ beberapa paruik), berikutnya
(3) limbago suku (mamak suku beserta ninik mamak yang diketuai penghulu/
datuknya), berikutnya (5) limbago kampong (sentra suku), berikutnya limbago
nagari (KAN), berikutnya limbago kecamatan.
2.
Perkembangan
Penduduk
Jumlah populasi
kurang lebih 7 juta 2000
Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan
Sumatra Barat, Indonesia: 3.747.343.
Jabotabek, Indonesia: 636.000.
Riau, Indonesia: 534.854.
Jambi, Indonesia: 385.734.
Sumatera Utara, Indonesia: 306.550.
Kepulauan Riau, Indonesia: 111.463.
Bengkulu, Indonesia: 66.861.
Sumatera Selatan, Indonesia: 64.215.
Negeri Sembilan, Malaysia: 450.000.
Pertambahan
jumlah penduduk Padang mencapai 12.968 atau 1,48 persen per tahun. Bila
kecendrungan ini tidak diupayakan penanganan secepatnya, maka Padang bisa tak
mampu lagi menampung perkembangan jumlah penduduk dengan segala kebutuhannya.
“Program
Keluarga Berencana ampuh mengatasinya. Keberhasilan pembangunan di bidang
kesehatan dan KB merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya tak bisa
dilihat seketika,” kata Sekda Padang
Asnel kepada Singgalang usai membuka pencanangan PKK KB Kesehatan Padang
2017 di kantor Camat Kuranji, Selasa (17/10).
KB
berkontribusi pada pembangunan SDM yang berkualitas di masa depan. Pemko Padang
memegang komitmen yang kuat mewujudkan kota yang mampu mengendalikan angka
kelahiran. Lalu, meningkatkan drajat kesehatan melalui penurunan angka kematian
ibu hamil dan bersalin serta penurunan angka kematian bayi dan balita.
Kemudian, peningkatan pasangan usia subur berpartisipasi ikut keluarga
berencana dan pembangunan keluarga.
Angka
kemiskinan di Padang lebih kurang 40.200 orang atau 4,98 persen dan ini menjadi
tantangan ke depan untuk meningkatkan kesejahteraannya.
3.
Demografi
Sumatra Barat
Ringkasan Data Sumatera Barat
Nama lengkap : Provinsi Sumatera Barat
Ibukota : Padang
Berdiri : 3 Juli 1958
Dasar hukum : UU No. 61/1958
Luas : 49.778 km2
Suku : Minangkabau, Tanjung Kato, Panyali,
Caniago,
Sikumbang, Gusci, Mentawai
Bahasa daerah : Minangkabau, Mandailing,
Mentawai,
Jawa, Tionghoa
Rumah adat : Rrumah Gadang atau Rumah
Bagonjong
Lagu daerah : Kampuang nan Jauh di
Mato,
Dayung
Palinggam, Ayam Den Lapeh, Barek Solok
Alat musik: Gendang Melayu, Saluang
Kesenian : Tari Piring, Tari Payung
Senjata adat : Karih (Keris)
Komoditas
utama dan industri : Batu bara, Karet,
Kelapa,
Cengkeh, Lada, Padi, Kayu, Ikan, Marmer
Arti
Lambang Sumatera Barat
Semboyan: TUAH SAKATO
Tuah
Sakato berarti Kesepaktan melaksanakan hasil mufakat atau musyawarah yang
merupakan langkah yang bertuah bagi masyarakat Sumatera Barat..
Rumah Gadang
Semangat
demokrasi yang menjadi ajang musyawarah masyarakat
Atap Mesjid Bertingkat Tiga
Islam
sebagai agama utama masyarakat di Sumatera Barat.
Bintang Segilima
Ketuhanan
Yang Mahaesa
Gelombang Laut
Dinamika
masyarakat Minangkabau
Letak Geografis Sumatera Barat
Berdasarkan
arah utara ke selatan, Provinsi Sumatera Barat adalah salah satu provinsi yang
berada di wilayah tengah Pulau Sumatera. Wilayah provinsi Sumatera Barat
meliputi dataran utama di sebelah barat Pulau Sumatera serta beberapa pulau
yang termasuk dalam Kepulauan Mentawai, antara lain Pulau Siberut, Pulau
Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan.
Provinsi
Sumatera Barat memiliki perbatasan darat dengan empat provinsi. Di sebelah
selatan, Provinsi Sumatera Barat memiliki garis perbatasan darat yang panjang
dengan Provinsi Jambi dan garis perbatasan darat yang pendek dengan Provinsi
Bengkulu. Di sebelah timur, Sumatera Barat memiliki garis perbatasan darat yang
panjang dengan Provinsi Riau. Di sebelah utara, provinsi Sumatera Barat
berbatasan dengan Sumatera Utara. Garis pantai terdapat di sisi barat, yaitu
berbatasan dengan Samudra Hindia. Kota Padang sebagai ibukota Provinsi Sumatera
Barat terdapat di wilayah pantai ini. Kepulauan Mentawai yang terdapat cukup
jauh di lepas pantai berjajar searah dengan garis pantai daratan utama dan
menjadi penghalang terpaan ombak besar dari Samudra Hindia. Ini menyebabkan
perairan laut antara Kepulauan Mentawai dan daratan utama provinsi Sumatera
Barat merupakan perairan laut yang cukup tenang. Kondisi ini mendukung
perkembangan sektor pariwisata dan perikanan di wilayah ini. Perairan tenang
dapat dilayari dengan aman serta banyak kehidupan laut menjadikan perairan di
wilayah ini sebagai habitat utama.
Bentang
darat Sumatera Barat didominasi oleh perbukitan dan pegunungan. Wilayah dataran
tinggi dan pegunungan, termasuk kawasan Bukit Barisan merupakan daerah terluas
di Sumatera Barat. Sekitar 70 persen bentang darat Provinsi Sumatera Barat
merupakan lahan yang tidak datar, Wilayah Sumatera Barat merupakan perbukitan
dan pegunungan yang memiliki lereng-lereng yang terjal, terutama lereng-lereng
perbukitan dan pegunungan di sebelah barat yang menghadap ke Samudra Hindia.
Rangkaian
pegunungan mendominasi wilayah provinsi Sumatera Barat ini ditempati oleh
banyak puncak gunung, di antaranya Gunung Gedang, Maitang, Marapi, Pantai
Cermin, Pasaman, Tandiket, Tangga, serta Kerinci (3.800 m) yang terletak di
daerah perbatasan dengan Jambi dan merupakan gunung tertinggi di Pulau
Sumatera. Sedikit lahan yang agak rata terdapat di sebelah timur dan sedikit
dataran rendah terdapat di sudut tenggara serta kawasan pesisir pantai yang
sempit.
Di
wilayah pegunungan di bagian tengah Sumatera Barat terdapat beberapa perairan
pedalaman yang menjadi sumber air penting bagi provinsi ini. Dengan luas 13.011
km2, Danau Singkarak yang melintasi wilayah Kabupaten Solok dan Tanah Datar
merupakan danau terbesar di Sumatera Barat. Danau Maninjau yang memiliki luas
9.950 km2 terdapat di Kabupaten Agam. Tiga danau lainnya, yaitu Danau Diatas
(3.150 km2), Danau Dibawah (1.400 km2), dan Danau Talang (1,02 km2) juga
terdapat di Kabupaten Solok.
Suku Minangkabau
Populasi
penduduk Sumatera Barat didukung oleh beberapa kelompok etnik. Etnik terbesar
adalah suku Minangkabau. Suku Minangkabau menyebar di hampir semua wilayah
daratan utama. Kelompok lainnya dalam jumlah yang lebih sedikit adalah suku
Mandailing yang banyak menghuni wilayah Pasaman, orang Jawa di Pasaman dan Sijunjung,
orang Tionghoa di wilayah perkotaan, dan berbagai suku pendatang lainnya.
Sementara itu, Kepulauan Mentawai dihuni oleh suku Mentawai.
Suku
Minangkabau menempatkan perempuan pada kedudukan yang istimewa. Tidak seperti
sebagian besar suku di Indonesia yang menganut sistem kekerabatan patrilineal
(garis keturunan ayah), Suku Minangkabau di Sumatera Barat menganut sistem
Matrilineal (garis keturunan ibu). Suku Minangkabau di Sumatera Barat merupakan
suku dengan budaya Matrilineal terbesar didunia.
Potensi Ekonomi Sumatera Barat
Sumatera
Barat memiliki potensi ekonomi yang cukup banyak. Perairan pantai barat serta
kawasan Kepulauan Mentawai memiliki banyak kehidupan laut yang memiliki nilai
ekonomi tinggi. Nelayan dapat menangkap beragam jenis ikan di kawasan ini. Ikan
kerapu, udang, rumput laut, kepiting, dan mutiara merupakan beberapa hasil
perikanan laut andalan. Daerah pesisir pantai, terutama kawasan Kepulauan
Mentawai menghasilkan banyak kelapa. Di daerah perbukitan dan pegunungan
terdapat perkebunan karet, cengkeh, dan lada. Kawasan pegunungan yang ditutupi
hutan juga menghasilkan kayu. Medan yang berat karena banyaknya lereng
perbukitan atau pegunungan yang curam merupakan tantangan utama pengembangan
sektor pertanian dan perkebunan di provinsi Sumatera Barat ini.
SEKTOR USAHA PERTAMBANGAN
Sumatera
Barat memiliki potensi bahan tambang golongan A, B dan C. Bahan tambang
golongan A, yaitu batu bara terdapat di Kabupaten Sawah Lunto Sijunjung.
Sedangkan Bahan tambang golongan B yang terdiri dari air raksa, belerang, pasir
besi, tembaga, timah hitam dan perak menyebar di wilayah kabupaten Sawah Lunto
sijunjung, Solok, 50 Kota, Pasaman, dan Tanah Datar. Bahan tambang golongan C
menyebar di seluruh kabupaten kota di Sumatera Barat, sebagian besar terdiri
dari pasir, batu dan kerikil sedangkan di Padang Pariaman terdapat obsidian dan
batu andesit.
Salah
satu yang telah banyak memberi manfaat bagi Sumatera Barat adalah batuan kapur
sebagai bahan dasar industri semen. PT Semen Padang di Padang telah
memanfaatkan kekayaan alam Sumatera Barat ini selama puluhan tahun. Batu kapur
banyak terdapat di sekitar Padang, daerah sekitar Danau Singkarak dan Padang
Panjang. Di Padang Panjang saja, deposit batu kapur yang dapat dieksploitasi
mencapai 43 juta ton.
SEKTOR USAHA INDUSTRI
Industri
Sumatera Barat didominasi oleh industri skala kecil dan rumah tangga. Jumlah
unit industri sebanyak 47.819 unit, terdiri dari 47.585 unit industri kecil dan
234 unit industri besar menengah, dengan perbandingan 203 : 1. Pada tahun 2001
investasi industri besar menengah di Sumatera Barat mencapai Rp 3.052 milyar,
atau 95,60% dari total investasi, sedangkan industri kecil investasinya hanya
Rp. 1.412 milyar atau 4,40% saja dari total investasi. Nilai produksi industri
besar menengah Sumatera Barat tahun 2001 mencapai Rp. 1.623 milyar, yaitu 60 %
dari total nilai produksi, dan nilai produksi industri kecil hanya mencapai Rp.
1.090 milyar, atau 40% dari total nilai produksi. Pada negara-negara maju
seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat sumbangsih dari industri kecil ini
dapat mencapai 80% dari total nilai produksi.
Sumatera
Barat kaya akan sumber air yang melimpah juga telah banyak memberi manfaat bagi
pembangunan daerah ini. Perairan danau Singkarak dan Maninjau telah lama
dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga air. Sumber air ini juga
memiliki potensi besar untuk diolah dan dikemas menjadi air mineral.
SEKTOR USAHA PARIWISATA
Keindahan
alam dan budaya Minangkabau di propinsi Sumatera Barat sudah terkenal dan
mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai objek pariwisata. Umumnya tiap
kabupaten dan kota di Sumatera Barat mempunyai obyek pariwisata minimal satu
kategori yang potensi untuk dijadikan daerah tujuan wisata alam dan budaya.
Kategori dari obyek pariwisata ini dapat berupa obyek pemandangan alam dari
pantai seperti Teluk Bayur, wilayah pegunungan yang sangat mempesona, danau,
ngarai dan lembah atau obyek kebudayaan.
Tujuan
wisata budaya di Sumatera Barat mempunyai prospek yang tinggi untuk
dikembangkan, dimana kekayaan budaya Minangkabau seperti rumah Gadang maupun
kebudayaan suku Mentawai termasuk salah satu yang unik di nusantara dan dapat
menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi.
Provinsi
Sumatera Barat memiliki berbagai jenis daearah dan tempat wisata antara lain:
Danau Singkarak (terbesar di Sumatera Barat), Danau Maninjau, Danau Kembar,
Ngarai Sianok, Lembah Anai, Lembah Harai maupun pulau Cubadak.
4.
Kebudayaan
dan kepribadian suku minang
·
Berani
melakukan perubahan
Orang Minang tak takut mendobrak zona nyamannya
dan melakukan perubahan untuk hidup yang lebih mapan. Karena itulah, mereka
banyak yang menjadi perantau, meski di kampung halamannya lebih nyaman dan
enak. Itulah sebabnya mereka tumbuh menjadi pribadi yang berani mengambil
risiko. Tentu saja dengan disertai perhitungan yang matang.
·
Memiliki
jiwa dagang yang kuat
Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang Minang
sangat andal berdagang. Jiwa berniaga ini seolah sudah mendarah daging sejak
zaman para leluhur dahulu. Tak heran kalau kita bisa dengan mudah menemukan
ribuan gerai bisnis fesyen di Tanah Abang . Tak hanya itu guys, orang Minang
pun banyak yang merambah bisnis kuliner berjudul “Masakan Padang” di seluruh
penjuru nusantara. Kabarnya, rendang dagingnya yang melegenda itu, dinobatkan
sebagai salah satu makanan terlezat di dunia.
·
Aktif
dan kreatif
Berbekal jiwa dagang yang tinggi, orang Minang
biasa dikenal sebagai pribadi yang aktif, kreatif dan agresif dalam memburu
peluang. Hal-hal kecil yang mungkin sepele bagi orang lain, justru bisa menjadi
kesempatan emas untuk mendulang rupiah. Kecakapan dalam berkomunikasi juga
mempengaruhi terciptanya banyak peluang yang luar biasa.
·
Religius
Orang Minang sangat religius. Bagi mereka,
sholat lima waktu tak boleh lalai ditunaikan. Banyak tokoh alim ulama yang
terkenal, juga berasal dari Sumatera Barat. Didikan rohani yang kuat semenjak
kecil, adalah salah satu faktor yang membuat jiwa religiusnya sangat menonjol.
·
Efektif
dan efisien
Dalam bekerja, orang Minang sangat efektif dan
efisien. Lihat saja bagaimana pelayan restoran masakan Padang menyajikan aneka
jenis makanan yang lezat itu. Mereka sanggaup membawa piring-piring saji dengan
sekali angkut, tanpa takut jatuh atau tumpah di tengah jalan. Mereka terbiasa
melakukan banyak hal dengan cepat tapi tetap rapi.
·
Mencintai
budaya leluhur
Orang yang sukses tak pernah melupakan asal-usulnya. Itulah yang
dipegang teguh oleh orang Minang. Mereka sangat mencintai budaya dan adat
istiadat dari kampung halamannya. Sejauh apapun mereka merantau, hal ini tak
pernah dilepaskan.